Bondowoso – Institut Agama Islam Darul Falah (INDAFA) Bondowoso menyelenggarakan kegiatan Studium Generale bertema “Membangun Generasi Intelektual Muslim yang Unggul, Berkarakter, dan Transformatif di Era Artificial Intelligence” pada Kamis (15/10/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB di Aula Yayasan Darul Falah Bondowoso, ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Darul Falah, jajaran rektorat, serta sivitas akademika Indafa Bondowoso.
Kegiatan akademik tersebut dibuka secara langsung oleh Rektor Indafa Bondowoso, Sutriyono, S.Ag., M.M. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Bapak Dr. Moh. Syaeful Bahar, M.Si., Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso, Ketua LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam pemaparannya, ia mengangkat perspektif keislaman dan kepesantrenan dalam merespons perkembangan teknologi. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan akhlak, etika, integritas, serta tanggung jawab manusia agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijaksana dan tetap berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu poin penting yang disampaikan narasumber adalah konsep backstage dan frontstage dalam kehidupan, yaitu proses pembentukan diri di balik layar dan bagaimana seseorang menampilkan peran serta kompetensinya di ruang publik. Dalam konteks ini, pendidikan pesantren dipandang sebagai miniatur kehidupan yang membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan positif sebagai bekal untuk terjun ke tengah masyarakat. Proses pembentukan diri tersebut menjadi fondasi penting agar seseorang tidak hanya unggul dalam penampilan dan pencapaian, tetapi juga memiliki integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Narasumber juga menekankan lima nilai dasar yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan, yaitu kreatif, komunikatif, kritis, kolaboratif, dan literasi. “Pendidikan pesantren mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang saat ini sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, mulai dari kreativitas, kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi, hingga literasi melalui pembiasaan membaca dan menulis,” ungkapnya. Kelima nilai tersebut semakin relevan di era Artificial Intelligence karena mahasiswa dituntut tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu menganalisis informasi, memverifikasi kebenaran, menghasilkan gagasan secara mandiri, serta menjunjung tinggi etika akademik dan tanggung jawab.
Melalui kegiatan Studium General ini, Indafa Bondowoso berharap sivitas akademika semakin siap menghadapi transformasi digital tanpa kehilangan identitas keislaman dan nilai-nilai kepesantrenan. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam membentuk generasi intelektual Muslim yang unggul dalam pengetahuan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, berkarakter, dan berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di era Artificial Intelligence.

